Hidup mulai lelah? Ayo kita healing kemana lagi!
Tapi, apakah beneran healing atau ternyata cuma escaping? Nah kannnn??? Apa sih bedanya kita traveling untuk healing dan traveling untuk escaping? Hhhmm… yuk mari kita cermati.
Healing, merupakan sebuah kata kerja, alias sebuah proses penyembuhan. Artinya segala sesuatu yang dilakukan dengan tujuan membantu proses penyembuhan itu, dapat dikatakan sebagai proses healing. Entah itu meminum obat kalau fisik kita yang sakit, atau pergi ke psikolog kalau mental kita yang terluka. Tapi, selain kedua hal itu, ada kegiatan yang kata orang-orang sangat mendukung proses healing, Salah satunya adalah traveling. Lalu traveling yang seperti apa sih yang bisa mendukung proses healing tersebut?
Sebuah studi dari Marshfield Clinic yang dilakukan selama rentang tahun 1996 – 2001 terhadap 1,500 responden perempuan (mungkin karena memang tingkat kecenderungan stressnya lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki) di wilayah Wisconsin menyimpulkan bahwa ternyata, perempuan yang berlibur (vacationing) kurang dari satu Kali selama dua tahun, berkecenderungan mengalami depresi dan tekanan. Sedangkan perempuan yang berlibur (vacationing) lebih sering justru akan lebih merasa puas dengan pernikahannya. Menurut penelitian ini pula, berlibur (tidak sebatas traveling saja) dapat memberi manfaat secara mental, fisik dan emosional , termasuk mengurangi stress, menurunkan tekanan darah, mengecilkan lingkar pinggang, meningkatkan mood dan menguatkan “refleksi diri”.
Nah, berhubung istilah “healing” dalam traveling ini merujuk pada kondisi psikis, maka refleksi diri inilah yang sebenarnya menjadi poin paling penting dalam proses penyembuhan mental dan emosional seorang individu. Karena, kekuatan refleksi diri adalah sebuah proses yang membuat kita tidak hanya mampu atau menyadari pikiran, emosi dan perasaan yang ada dalam diri kita, tetapi juga mampu mencernanya secara introspektif, korektif dan evaluatif sehingga kita dapat mengeliminasi pengaruh negatif dan berani berlaku jujur pada diri sendiri. Kekuatan refleksi diri juga sebuah proses me-review kembali, kesalahan apa yang telah kita lakukan dan langkah apa yang harus kita ambil selanjutnya. Kekuatan refleksi diri juga merupakan sebuah solusi atau jalan untuk mengenali diri sendiri, dengan menggali ke dalam diri sendiri dan pada akhirnya berdampak pada perubahan positif penuh nilai dalam menjalani tantangan hidup, sehingga kita dapat memilih, memilah dan memutuskan secara tepat, apa yang ada dalam kendali kita dan yang memang tidak dapat kita kendalikan.
Kemudian, berdasarkan paparan diatas, tentunya sudah jelas dapat disimpulkan bahwa, ketika traveling yang kita lakukan tidak mampu membuat kita memunculkan “refleksi diri” maka tentunya traveling kita hanyalah sekedar kegiatan melarikan diri alias escaping, yang sudah pasti tidak akan membantu kita menyelesaikan masalah ketika kita kembali kepada kehidupan nyata penuh problema.
Jadi, mau traveling untuk healing atau cuma escaping nih?